Senin, 21 Juli 2014

Omnium Rerum Principa Parva Sunt

Gue dapat kata-kata ini dari novel karangan Ika Natassa yang berjudul Antologi Rasa. Gue ga mau banyak bahas tentang novel ini, karena memang apa yang mau gue tulis disini tidak beririsan dengan apa yang Ika tulis di novel tersebut.
-Everything has a small begining-
Gue suka kata-kata itu, ketika gue membaca tulisan ini, gue cuma mikir kalau memang semua hal yang ada di alam semesta ini dimulai oleh suatu hal, sekecil apapun itu. Mau itu yang berkenaan dengan hati, rasa, benda, apapun itu pasti dimulai oleh hal kecil.
Bahkan di agama gue, Al-Qur'an surat Al-Mukminun diterangkan dengan gamblang tentang proses penciptaan manusia dari hal terkecil yang bernama Nutfah.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah.Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulangbelulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan ia makhluk yang  (berbentuk) lain. Maka mahasuci Allah Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian sesudah itu,sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalianakan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (QS Al- Mu‟minun: 12-16)
Dulu gue penganut faham "Coincidence Theory", menurut gue semua itu hanya kebetulan aja, gue yang kebetulan keliatan bego dan nakal sedemikian rupa sehingga gue dibuang ke Kelas B pas jaman kelas 4 SD, gue yang kebetulan bisa ngerjain ujian caturwulan jadi peringkat 1 di kelas 5, nilai bagus try out jaman SD trs dibalikin ke kelas A, kebetulan bisa masuk SMP N 1, kebetulan bisa ketemu kamu (ga penting), kebetulan bisa ditolak sama kamu (ga penting), kebetulan ketemu kamu yang lain (agak penting), kebetulan bisa cocok dan menikah. Semua gue interpretasikan sebagai suatu kebetulan, bagai semua seolah olah ada konspirasi dari yang Diatas untuk ngebuat alam sekitar gue memaksa gue secara kebetulan buat ngelakuin semua hal itu, either yang penting atau yang ga penting.

Gue tau itu salah, tapi gue sendiri juga kaga ngarti kudu gimana ngenilai semua itu selama gue masih menjadi salah satu pelaku diantara berbagai pihak keterbetulan tersebut.

Seolah olah gue mengamini apa yang Simon van Booy (gue percaya lo kaga ada yang kenal sama nih orang, me either muehuehuehuehehe)
“Coincidences mean you're on the right path.”
Gue ngrasa jadi orang paling beruntung sekaligus apes seluruh dunia, di satu sisi gue slalu mikir, kebetulan ini pasti ngebikin gue jadi something, disisi lain gue juga mikir kalo kebetulan ini bakal ngebikin gue jadi dendeng yang siap dicampur sambel ijo di warung padang dan dimakan rame rame.

Goes to the main topic, gue lair bukan dari orang yang super power atau berada,  gue cm manusia biasa sama seperti kamu, iya kamu :)))

Gue mulai ngrasa gue kudu memposisikan diri sebagai gue sendiri bukan lingkungan sekitar yang mencoba mengkondisikan gue. Nah bingung sendiri kan lo? Gue aja bingung ini gimana nyernanya. wekekekek

Intinya gini, sejak gue ngrasa gagal dalam hidup, which means that i feel like God put me on the worst point of my life, walau sebenere ga gitu juga sih, tapi itu yang gue rasa. Gue mulai mikir kalau semua hal yang terjadi ke gue itu bukan karena kebetulan, tapi karena gue sudah memilih apa yang kudu gue jabanin beberapa menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun ke tahun yang akan datang.

Kita ibaratkan terbentuknya minyak bumi sehingga dia bisa terproduksikan ke permukaan. Mulai dari awalnya source rock yang menjadi kitchen dari pemasakan minyak bumi yang terjadi bukan karena kebetulan, karena faktor waktu, suhu, dan tekanan. Adanya patahan di dalam bumi karena adanya efek faulting karena bumi bergeser sesuai hierarkinya. Adanya reservoir rock, cap rock, yang semuanya lagi lagi terbentuk bukan karena kebetulan semata. Minyak yang bermigrasi ke reservoir rock karena adanya jalur patahan tersebut, sampai ke slippage, sehingga manusia pertama kali menemukan minyak, karena mereka memilih untuk mencoba mengebor nya. Bukan kebetulan semata mereka bisa mendapatkan berbarel barel minyal, mereka memilih, memutuskan untuk keluar jutaan dolar untuk tau isi dari bumi tersebut.

Semua yang terjadi di muka bumi ini bukan karena kebetulan karena seyogyanya semua ada yang namanya process. The quintessence of Life.

Ingatlah ketika kita berjalan, kita pasti memulainya dengan langkah pertama. Ingatlah ketika kita berbicara, kita pasti memulainya dengan tangisan pertama. Ingatlah ketika kita bercinta, kita pasti memulainya dengan tatapan pertama. dan ingatlah ketika kita meninggal suatu hari nanti, kita sudah memulainya dengan kelahiran kita dulu.
Semuanya dimulai dari sesuatu hal, meski itu hal yang sangat kecil.

Gue kadang mengeluh, kenapa gue begini, kenapa gue begitu, kenapa sekarang gue seperti ini, kenapa gue ga gini aja dulu, kenapa yah kok gue cuma bisa segini, ga bisa segitu, semuanya hanya berisi kenapa dan seandainya, itulah yang hanya membuat gue meratap dan ngrasa kalau gue useless padahal gue bisa ngasih sesuatu lebih.

Thomas Alva Edison ga akan bikin lampu yang kita nikmati sekarang tanpa ribuan lampu yang dia gagalkan, Wright bersaudara tak akan membuat kita bisa terbang tanpa berpuluh puluh model pesawat yang mereka berdua coba untuk terbangkan. Karena ini gue mikir kalau memang hidup itu membutuhkan sesuatu hal kecil untuk mencapai hal besar.

Ini adalah tulisan pertama gue sejak setahun terakhir, gue sempet mikir kenapa gue nulis itu cuma kebetulan aja gue bosan dan gue ga ngarti lagi kudu ngapain buat ngabisin waktu gue buat nyampah, itu yang ngebuat gue males lagi buat nulis akhir akhir ini, semuanya terhenti di bait bahkan baris kedua.

Sedikit flashback, gue mulai nulis juga karena hal kecil, iseng doang, karena itu jadi banyak yang baca tulisan gue dan ngebikin mereka terinspirasi masuk ke dunia Oil and Gas. Gue sempet minder, gue masih nothing, ngapain nulis kalao gue itu bukan sapa sapa, entahlah, tapi itu pikrian kotor yang nari nari geje di otak gue dan ngejadiin gue males buat nulis.

Gue bukan socrates atau plato yang pinter bikin tulisan indah bahkan mendekati sempurna membuat cerita panjang lebar sehingga seseorang yang ngebaca bakal terkesima dan bisa membayangkan apa yang socrates dan plato imajinasikan saat itu, tapi karena dulu awalnya gue sudah milih buat nulis, gue ga bakal berenti buat terus berkarya dan mencoba mensumbangkan apa yang gue bisa buat negeri (asli sampah banget nih paragraf isinya -___-)

“We do not create our destiny; we participate in its unfolding. Synchronicity works as a catalyst toward the working out of that destiny.”
Kita sendirilah yang akan mengatur apa yang akan terjadi di diri kita, bukan siapa siapa, buka hanya sekedar kebetulan. Mulai dari menciptakan hal kecil untuk meraih sesuatu hal yang besar nantinya.

Omnium Rerum Principa Parva Sunt, Everything has a small begining :)

 


Rabu, 04 September 2013

The champion of this universe

This night i passed my dinner just to visit my blogsite and trying to write down something inside. Its already several months i have been staying in this island, far away from my families and mates to look for unseeing things which is called future.

I don't pretty much know how future is made by, i just tried to make everything look easier and worth to fight for. Many people think that i got all of this such of matters with a simple way, anyhow i never think that i already got all the things i want, i just got nothing et all.

Inget kalau dulu bokap mau berangkat haji, gw nangis kejer terus terang, bukan karena mau ditinggal pergi dan takut ga balik, tp terharu ngliat perjuangan bonyok yang bener bener mulai semua dari nol, sangat nol, dengan dana pas pasan, mutusin keluar dari perusahaan yang selama ini jadi tempat mencari nafkah, tapi akhirnya bisa menyempurnakan rukun islam yang kelima. Sungguh, itu yang touching abis.

2 minggu yang lalu kalo ga salah, dapet sms dari adik, kalo dia sudah lulus jadi sarjana, another achievement from my father so far. He already made 2 of his sons become a good man as well, walau masih menjadi sarjana, anggap saja itu sudah menjadi orang yang baik, walau asline dua duanya bejat hwehehehe

Kadang sedikit menyeramkan jika harus berupaya melampaui atau setidaknya menyamai apa yang sudah didapat bapak sampai sejauh ini, gw masih terlalu kecil dan ingusan untuk harus berupaya keras seperti beliau. Entah, tapi beliau tetaplah juara nomer 1 diseluruh galaksi.

Selamat bapak, sudah memerdekakan dua jagoannya. :) 


Minggu, 18 Agustus 2013

The Parjo's

Dia sosoknya besar, suaranya tegas, dan dy berbadan gempal, sebut saja dia pak parjo, wali kelasku di kelas 3 Sekolah Dasar. Perkenalan kami bisa dibilang tidak cukup baik, setiap waktu saya selalu dianggap biang keladi kerusuhan yang ada di kelas, dan sya akan menjadi orang pertama yang harus dicari bila ada kerusuhan di kelas.

Hampir 2/3 tahun saya terlambat di kelas 3 ini, sering menghabiskan waktu jam pertama dan kedua pelajaran di dalam kelas, atau bahkan di UKS. Beruntung kalo masih bisa masuk kelas harus rela dipermalukan didepan kelas dengan harus berdiri dan mengangkat satu kaki.

Saya tidak berfikir bahwa sistem pendidikan di sekolah ini salah, atau gurunya yang keterlaluan, tp memang saya yang keterlaluan. Sifat dominan saya sudah nampak sejak kelas 3 ini, tapi yaah, selalu tidak berhasil memenangkan keadaan. Ada anak guru, mukanya sengak, dan emang sedikit songong, yaudah saya ajak dia berantem, kami pukul pukulan sampe ada yang mimisan, sayangnya saya yang selalu menjadi pihak yang dipersalahkan entah karena saya sudah di cap nakal, ataupun dia adalah anak guru.

Jangan harap saya bisa tenang tiap masuk kelas, muka sengak wali kelas tiap ngliat saya selalu harus saya hadapi setiap pagi berangkat sekolah, mungkin itu yang membuat saya malas berangkat ke sekolah sehingga telat. Pernah suatu ketika kami sekelas mengerjakan LKS, temen sebelah saya mendapat nilai 10, dan kebetulan saya juga mendapat nilai 10, akhirnya hadiah yang saya dapatkan, semua anak boleh pulang sekolah kecuali saya, saya harus ngaku kalau saya nyontek temen sebelah saya. Entah mengapa anak seperti saya diperlakukan seperti ini.

Saya pun juga pernah mendapat perlakuan sedikit kurang mengenakkan untuk bocah berumur 9 tahun, ketika kami berbuat gaduh dikelas, saya mendapat hadiah yang cukup membuat akal saya berputar 10 kali untuk bisa mengatasi hal tersebut. saya di skors oleh guru tersebut. Bayangkan, saya seumur segitu, yang harusnya disayang dan diarahkan malah di skors.

Puncaknya, di akhir tahun, saya dibuang ke kelas B, ini yang saya kurang suka dari SD tempat saya belajar, kenapa musti ada kastanisasi pendidikan? Apa tujuannya biar yang pinter tambah pinter? dan yg bodoh semakin bodoh? Uniknya, saya masih 10 besar di kelas, tp karena saya diberi nilai "C" di kepribadian saya, akhirnya saya diungsikan ke kelas B.

Hari ini membuka halaman group SD saya, sedikit tercengang melihat salah satu wali kelas saya yg dulunya gagah, gempal, terkenal pemarah dan selalu menghakimi saya, sekarang (maaf) tinggal tulang, kurus kering, dan dikabarkan sakit.

Mungkin bisa dibilang masa kelas 3 SD inilah merupakan masa masa berat saya sebagai seorang anak kecil, dibilang menyakitkan? iya, menyakitkan.

Saya memang dulu terkenal cukup nakal dan berani dibanding teman teman sebaya, tapi terlalu kebablasan, hehehe

Itu tadi bagian sedih sedihnya, sebenarnya saya sedikit kecewa dengan semuanya, jauh berbeda dengan teman teman saya yang benar benar menjadi anak kesayangan walikelas maupun orang tuanya.

Jujur, saya tidak pernah melupakan sedikitpun dari apa yang pak parjo lakukan kepada saya ketika saya kelas 3 SD tersebut, masa itu adalah masa masa yang tak mungkin sebegitu mudahnya dilupakan oleh anak anak seumuran saya. Tapi apa yang beliau lakukan kepada saya, membuat saya tersadar kemudian, bahwa saya harus menjadi pribadi yang lebih baik, jauh lebih baik dari yang sebelumnya.

Lekas sembuh wali kelasku, in sya Allah saya berjanji akan jadi orang yang jauuh lebih bermanfaat dari apa yang dulu bapak pernah fikirkan sebelumnya. Terima kasih atas ilmu yang bapak berikan.


اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ فَأَنْتَ الشَّافيِ
لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

ALLAHUMMA ROBBANNASI ADZHIBILBA' SA ISYFI ANTASYSYAFI LA SYIFAUKA SYIFA' AN LA YUGHODIRU SAQOMA
"Ya Allah, Tuhan manusia, lenyapkanlah segala penyakit, sembuhkanlah, Engkau Tuhan yang menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan suatu penyakitpun


Sabtu, 20 Juli 2013

Semper Fidelis

Tak terasa, sudah dua tahun lebih mengabdikan diri kepada Negara dalam wujud yang berbeda, menjadi pembeda karena kami terlahir sebagai orang orang yang luar bisa berbeda, merelakan masa muda jauh dari kerabat, orang tua, sahabat, bahkan kami bisa dibilang sebatang kara.

4 tahun kami belajar tentang bagaimana bumi ini bisa berkotempelasi maksimal untuk menghasilkan minyak bumi yang bisa bermanfaat bagi umat manusia, dan kami mengais untuk hal itu, sekali lagi kami melakukan itu untuk bangsa dan negara, naifnya tak ada yang menganggap kami melakukan ini untuk mereka, seolah we are working like a shit and acknowledge as betrayer, padahal tanpa kami tak tau lagi bagaimana ayah dan ibu kami berangkat mendidik calon calon penerus bangsa di sekolah menggunakan kendaraan mereka.

Lahir bukan dari keluarga yang kuat adat dan istiadatnya untuk merantau atau bahkan membangun negara, saya meyakinkan ibu untuk melepas anak pertamanya untuk jauh dari keluarganya, lebih dari 1000 kilometer jauhnya, butuh menyeberangi selat sunda bahkan laut jawa untuk saling berbalas peluk dan salam.

Saya berangkat bukan hanya untuk sekedar mencari rupiah, tapi juga demi bangsa dan negara, terlalu munafik memang, tapi butuh kekuatan lebih untuk meyakinkan diri bisa menjejakkan kaki di tanah yang asing untuk yang pertama kalinya. Kemampuan untuk bisa lebih beradaptasi menjadi alasan utama seorang seperti saya bisa bertahan untuk hidup. Mungkin kali ini Charles Darwin benar, bukan tentang teorinya bahwa manusia adalah berasal dari monyet, tapi hanya yang bertahanlah dia yang akan selamat dari seleksi alam. Bertahan untuk hidup, bertahan untuk membuat bangsa besar ini terus bernafas.

24 tahun sudah usiaku sekarang, bukan waktu yang singkat untuk merubah diri menjadi seorang pria dewasa, atau mungkin saya belum dewasa seperti adanya. Sejak kecil tak pernah menjadi kumpulan orang orang terbaik di sekolahnya, bahkan di SD pernah terbuang di kelas yang lebih dianggap kurang baik dari yang lain. Bukan anggota anggota OSIS atau MPK yang selalu menyuarakan pendapatnya atau sekedar eksis di depan adek kelas, saya bukan anggota BEM yang ikut ke jalan dengan dalih memperjuangkan kebutuhan masyarakat, bahkan saya bukan orang yang baik bagi diri saya sendiri.

Mimpi, usaha yang gigih, dan tidak pernah melepas Allah SWT adalah alasan saya untuk bisa terus survive dan hidup di lingkungan yang cukup menyeramkan ini. Ketika saya dan sahabat sahabat saya harus menghabiskan bulan ramadhan kami jauh dari kolak buatan ibu atau bahkan sekedar teh manis hangat yang disiapkan ayah untuk mengembalikan stamina kami. Ketika kami harus terus terjaga setiap malam kalau kalau sumur yang kami bor sedang bruntung bertemu shallow gas, dan nyawa taruhan kami. Karena itulah kami memilih untuk hidup seperti ini, bukan hanya karena uang atau apapun.

Ketika kita menyadari bahwa produksi minyak dalam negeri sudah semakin menurun akan tetapi kebutuhan akan BBM semakin terus bertambah, apa kami tidak semakin gila? Bayangkan perbandingan produksi 820rb Barel Oil per Day produksi dengan 1.4jt Barel Oil per Day konsumsi? Apa kita tak pernah menyangka kami hampir tak tau lagi harus mengais apa untuk bisa terus hidup?

Sekedar celoteh menyambut hari ke 12 bulan Ramadhan 1434 H, Indonesia akan menjadi negara besar ketika setiap elemen masyarakat secara bersinergi ikut bersama membangun bangsa, bukan saling menghakimi saudaranya. Walau saya bukan bagian manusia manusia cerdas atau bahkan populer di SD, SMP, atau SMA tempat saya belajar, saya memilih untuk akan terus berjuang membangun bangsa, dengan cara saya.

Mengutip semangat US Marines, Semper Fidelis, aku akan terus setia kepada Bangsa dan Negara ini, Indonesia.

Duri, Riau, Indonesia
Muhammad Afif Ikhsani
Petroleum Engineer