Senin, 20 Februari 2017

Kembali Membumi....

Rambutku habis kali ini, tingal beberapa mili tersisa karena perintah sialan itu, hanya bisa menggerutu mengingat ini permintaan dari para bedebah yang mengatakan dirinya kakak tingkat yang harus dihormati. Aku mengerti ini adalah salah satu hal yang harus dipenuhi jika ingin menjadi seorang Insinyur, mental yang dua kali lebih besar, nyali yang lebih berani daripada singa, tapi kukira mereka kali ini berlebihan, tak ada singa yang memakai kaos kaki yang berbeda di kedua sisinya.

Sudah pukul 6 pagi itu, kota seribu universitas dibilangnya, kota pelajar. Jarak antara kos dengan kampus tak kurang 3 kilometer dengan syarat tak boleh membawa kendaraan, salah satu bentuk pengejawantahan dari istilah penyiksaan dimulai.

"Woii Lari Anjing...Woiii Cowok jalan kayak bancii..." Teriakan jelas muncul dari sana sini mengoyak pagi yang cukup dingin ketika perut masih kosong dan hanya berisikan nasi telor 3 ribu perak hasil karya warga Kuningan yang merantau di Jogjakarta.

Ini yang menarik, Jogjakarta ini malah lebih Sunda ketika sudah disekitaran kampus kampusnya, berjejer Warung Burjo (Bubur Kacang Ijo) laiknya Alfamart vs Indomaret dimana mana. Dan lucunya jualan utamanya bukanlah burjo melainkan mie instant, sesuatu yang jauh dari kata sehat namun nyaman di kantong bagi kami mahasiswa. 

Sekitar 200 orang dikumpulkan pagi itu di pelataran jurusan, di kampus yang bisa dibilang bukan termasuk yang terbaik di bidangnya, tapi penghasil singa singa yang siap bertarung dengan siapa pun yang berani melawan.

Ada anekdot bahwa kampus kami hanya diciptakan untuk warga industri kelas dua, awalnya aku percaya, namun seiring aku belajar dan lulus dari tempat ini, aku percaya bahwa kami tumbuh menjadi warga kelas satu, setidaknya di hal nyali dalam menerima semua pekerjaan.

"Rapatkan barisaan, samakan tinggi", teriak seorang yang nafasnya sudah bak kamar mandi yang sudah tak dikuras selama bertahun tahun.
Kawan, kau tau bau bak mandi yang tak dikuras kan? itulah rasanya jika kau harus berdiri di tengah lapang dan mendapat cacian dan perintah dari kakak tingkat yang memberlakukan syarat bahwa senior selalu benar. Bau mulut yang tak jelas dan ludah yang lari kemana mana. Satu yang susah kulakukan, perintah samakan tinggi -_-"

Satu hari berlalu, dua hari berlalu, aku masih berdiri tegak di depan mereka semua, satu yang menyeramkan, senior wanita!

Ketahuilah kawan, hal yang paling mengerikan di dunia ini adalah ketika melihat seorang wanita yang mengamuk, ibarat gunung krakatau yang letusannya bisa sampai terdengar ke Amerika, aku lebih memilih menunduk ketika salah seorang senior wanita membentakku. Sudah cukup aku kena bentak ibu di Rumah, sekarang masih harus dengar ibu ibu cerewet ini menghabisiku dengan kata kata rasisnya.

Ada satu cerita lucu ketika saya tak hadir di salah satu acara yang diadakan oleh pihak Himpunan kampus, bagi kami yang tak hadir saat itu diwajibkan untuk datang di salah satu kontrakan dari senior kami. Baju kami dilepas, dan kami diminta berbaris dan menyampaikan alasan kenapa kami tidak datang. Salah satu senior menghampiriku.

"Kamu ikut fitness ya?" seorang kakak pembina cantik bertanya sambil mendorong dadaku.

"Tuhaaan, aku lebih milih tiap hari ga ikut kumpul kalo ketemunya kek ginian", gumamku dalam hati sambil nelen ludah ngliat body kakak senior itu.

Aku masih berusia 18 tahun saat itu, baru lulus SMA, perjaka dan ditanya Ikut Fitness ato enggak. Serasa badan ini terbang dan lupa dengan berat badanku sekarang.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku bukan lahir di keluarga yang keras walau ibu bisa dibilang adalah ibu yang tak pernah berbicara kurang dari 5 menit setiap memarahiku. Frekuensi bapak mengayunkan sapunya untuk membangunkanku untuk sholat subuh pun bisa dibilang cuma sekali sehari. Jadi bisa disimpulkan betapa indahnya masa kecilku kan?

Walaupun begitu aku tak begitu terbiasa kena tegor tiap hari, mending disikat bapak tiap pagi dibanding ngliat senior senior ini tiap hari.

Satu keinginanku saat itu, "Aku harus keluar dari neraka ini..."

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Harganya masih sama dengan tahun lalu, satu lembar formulir rangkap 3 yang berisi beberapa biodata dan pilihan jurusan yang akan diambil, kuambil satu dan aku balik pulang ke solo malam itu.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

"Nanti malam bapak jemput terus temenin bapak ambil mobil ya", kulihat handphone ku bergetar, SMS dari bapak.

Bapak hanyalah seorang karyawan buangan dari salah satu perusahaan percetakan bonafide di kota solo (tebak aja namanya). Iya, dia dibuang setelah dipindahkan ke kantor pusat dan diposisikan sebagai HRD. Seseorang yang menghabiskan hidupnya sebagai Kepala Cabang Sales tiba tiba dipindahkan ke kantor pusat dengan embel embel promosi, namun sebenarnya diumpankan ke mulut buaya.

Beberapa karyawan bermasalah yang cukup dekat dengan bos kebetulan berurusan dengan bapak, itulah yang kubenci dari sistem korporasi, se profesional apapun mereka mengaku, kalo sudah urusan perut, para penjilat akan mucul dimana mana, celakanya aku sekarang hidup di sistem yang tak mengenakkan ini.

Bapak difitnah dan beberapa pihak memaksa bapak mengambil pensiun dini, tak ayal itulah satu satunya pilihan yang dimilikinya, keluar atau tetap bertahan di ketidakadilan.

Bapak keluar dan menghidupi kedua anaknya dengan berjualan mobil. Satu yang aku selalu idamkan dari bapak, beliau bukan tipe orang yang gampang menyerah. Beberapa waktu kemudian beliau juga menerima tawaran untuk ikut membangun perusahaan percetakan sendiri dengan gaji yang tak ada nilainya (dalam makna sebenarnya). Bapak beralasan jiwanya disana, itu pelajaran pertama yang aku ambil dari bapak "Cintai pekerjaanmu, jangan cintai perusahaanmu"

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku duduk sendiri di peron stasiun tua kota itu, stasiun yang mungkin usianya lebih tua dari sejarah negara ini. Duduk termenung mengingat pesan salah satu guruku ketika kutelpon.

"Mas, masak alumni SMA kita masuk ke Univ Swasta", ucap guru geografiku yang menanggapi proposalku untuk sharing profil kampusku. Cukup menyakitkan namun itulah salah satu fakta yang hanya bisa aku iyakan dari dosenku. 

Kereta itu datang tepat waktu, se tepat apa yang guruku sampaikan kepadaku.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Bapak sudah siap di depan, aku kali ini mencoba berbakti walau hatiku sebenarnya ingin berontak dan protes atas apa yang sudah aku alami hampir setaun ini.

Tapi aku hanya bisa diam.

"Nanti kamu bawa pulang motornya yah", perintah bapakku tanpa aku mengiyakan.

Setiap aku berbincang dengan bapakku, aku selalu ingat dosa yang pernah aku lakukan ketika aku tak kerjakan soal ujian masuk STAN ketika awal tahun aku berjuang.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

"Silahkan masuk Pak, dik, mohon maaf rumahnya berantakan", seorang ibu setengah baya mempersilahkan aku dan bapak memasuki rumahnya. Tidak begitu besar, namun nyaman.

Bapakku dan ibu itu menyelesaikan jual belinya, sebuah mobil Aminity tua yang ingin dia jual karena anaknya dari Riau mengirimkan mobil yang baru.

"Alhamdulillah mas, anak saya masih sayang sama bapak ibunya", celetuk ibu itu.

"Yang saya mau cuma biar anak saya bahagia kok mas, saya masih sayang sebenarnya sama mobil ini, tapi mau bagaimana, anak saya memaksa", ibu itu menambahkan.

Bukan raut sombong, tapi raut kehilangan cintanya di mobil itu, tapi kecintaan ibu itu terhadap kebahagian anaknya jauh mengalahkan cintanya ibu itu ke mobilnya.

"Anak saya pengen saya bahagia, karena kalo saya bahagia, dia akan bahagia mas, dan dia bilang ini mungkin salah satu cara dia mengabdi kepada saya, membahagiakan saya". Seloroh ibu itu.

"Wah kerja dimana bu anaknya?", tanya bapak ke ibu itu

"Caltex mas di Riau", Jawab ibu itu yang aku yang dari tadi terdiam, termenung mencari arti kata membahagiakan orang tua.

Malam ini menjadi malam yang nanti menentukan langkahku, yang secara ajaib menuntunku ke jalan berliku namun pasti akan membawaku ke titik tertinggi nantinya.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Pagi ini hari terakhir mengembalikan formulir 3 rangkap itu, sudah terisi semua, pilihan 1 Fakultas Kedokteran, dan didepan kampus itu aku hanya terdiam, pikiranku terisi penuh ucapan ibu tua itu.
"Bapak Ibu ku apa pernah sebahagia dia? Bagaimana aku membahagiakannya?" pikirku.

Saat ini aku kalah akan egoku, mundur dan mencoba mencari tau lebih dalam dari apa yang sebenarnya aku impikan, tujuh langit sudah aku lewati, aku harus tetap membumi.

Pertanyaanku? Apakah aku gagal meraih mimpiku? 


Minggu, 13 November 2016

2006

mimpi itu masih sama, tak pernah berubah, walau sejak 10 tahun yang lalu...

Rabu, 09 November 2016

Our World, today...


This words are really showing our world, nowadays. A billionaire who's named Donald Trump won the America's election without any single political experience in his entire life.

Sadly when the author tried to compared this condition with our current global economic situation which need a strong qualification to brace the very first entry level job. I believe this is happening not only in America but also across this universe. 

People need money to survive. Trump is coming to the election like Bruce Wayne with his tons of dollars try to safe this world. But again, Trump is not a Batman. Batman spend his money to kick bad people's ass, trump neither. Even we still cannot imagine, how this world would be seen after this opportunist man become the first man in US, even in the world.

Trying to draw back with the current oil business, Trump seems give a new hope in increasing of oil price. Many speculation derived a new paradigm that this man will create a new era of oil industry, even with a full-blooded hand. 

Oilmen nowadays already have been suffering since the big jumping oil price from range USD $90/bbl to USD $ 40/bbl. It cuts almost 60% from the earning for every single oilmen in the world.


It was hard for the oilmen who has dismissed from his company, but it is not even better for the oilmen who is still working in his nature. We will see another drama for 4years ahead, is Trump will bring a good way of the oil price or vice versa.

So, brace yourself, better you tightened your seat belt to face another storm. Storm of Trump and Storm of oilprice.

Kamis, 20 Oktober 2016

Deepwater Horijon (not Mijon)

Ada yang udah nonton Deepwater Horizon? Pasti banyak yang udah nonton kan? Gue pernah ngepost tentang kasus ini berpuluh puluh taun lalu ketika jaman gue masih rajin nge blog (dibaca: ga ada kerjaan).

Kalau mau tau tentang tulisan gue dulu bisa dibuka di link ini Deepwater Horizon

Ini film baru yang mengisahkan cerita menyedihkan dibalik tragedi yang merengut 11 nyawa orang orang yang kerja di Rig. Dibintangi Mark Whalberg, nih pelem berhasil bikin gue jiper inget dulu gue sempet pernah koar koar buat pengen kerja di tempat ginian.

Yaah, namanya aja anak ingusan, kadang memang mimpinya ga tanggung tanggung dan bisa dibilang aneh aneh. Menjadi seorang yang bekerja di rig floor memang riskful. Gue males sebenere bahas ginian, ibarat gue sekarang lagi ngejilat ludah gue sendiri, tapi asli gue akuin ngeri kalo kerja di rig floor itu.

Let's say gue adalah sarjana (dan karena memang gue masih males buat ambil S2) yang diterima menjadi seorang drilling engineer dan atau ditunjuk menjadi seorang company man, lo bakal setidaknya memimpin 28 orang kerja di satu shift pekerjaan pemboran. Which means, semua nyawa mereka di tangan kotor lo (kalo lo blm cebok)


Kalau lo perhatikan lebih lanjut di pelem deepwater horijon, Si Kurt Russel itu bukan lead company man nya, doi itu sebatas leader di transocean yang memastikan kalo kapalnya ga lecet, yang namanya kumpeni man itu yang dari oil company nya. Kalo ndak salah si botak di nih pelem yang jadi kumpeni man nya. Maka dari itu dialah yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan US saat itu karena dianggap lalai dan mematikan 11 nyawa (walaupun akhirnya tuntutan itu dibatalkan akhirnya).

Nah ada point penting yang sedikit mau gue kulik disini, walau mungkin lo yang kuliah di Minyak udah ngarti masalah sebenere dari case di tuh kejadian.
Di tuh pelem di sebutin kalo salah satu serpis kumpeni yang nyemen well ga ngelakuin CBL (Cement Bond Log) untuk tau quality cement, dan itu yang nyebabin lubang bor nya ga stabil terus blow out.

Sebenere, apa itu fungsi semen pemboran? 
Fungsi utama semen tuh  buat nglekatin casing pada dinding lubang sumur, nglindungi casing dari masalah-masalah mekanis pas ngebor kayak shaking, nglindungi casing dari fluida formasi yang bersifat korosi trs misahin zona yang satu terhadap zona lainnya dibelakang casing.

Semen pemboran itu bukan semen tiga roda, semen padang atau semen bangunan. API udah nglakuin pengklasifikasian semen kedalam beberapa kelas buat ngegampangin pemilihan dan penggolongan semen yang akan digunakan. Pengklasifikasian ini didasarkan atas kondisi sumur dan sifat-sifat semen yang disesuaikan dengan kondisi sumur tersebut. kondisisumur tersebut meliputi kedalaman sumur, temperatur, tekanan dan kandungan yang terdapat pada fluida formasi kayak sulfat dan sebagainya. Biasanya semen yang dipakai itu semen tipe G, Semen kelas G dipake buat kedalaman 0 sampai 8000 ft dan merupakan semen dasar. Kalo ditambahkan retarder nih semen bisa dipakai untuk sumur yang dalam dan range temperatur yang cukup besar. Semen ini tersedia dalam jenis moderate and high sulfat resistant. Nih kalo kalian mau liat kek mana caranya nyemen itu.



Nah, sekarang kalo ada yang nanya, udah bagus belum semennya? Ga ada yang bisa jawab kalo kita belum cek cuy.

Ada beberapa cara mudah buat ngecek semen yang lo masukin itu bagus atau jelek.
1. Lo bisa ngelakuin pressure test, jadi lo kasih pressure dari atas, kalo hold, you punya good semen
2. Swab dry, swab itu semacam lo unload pake liquid tapi niatin dry, jadi harapan nya emang kosong
3. Run CBL (Cement bod log) buat tau quality cement secara insitu (tapi yah pake duit lebih)

Once lo bisa mastiin sement lo bagus, lo bisa lanjutin ke tahap berikutnya, either mau diperfo atau go through next casing section.

Gue bingung ngejelasin gimana cara baca CBL, lo bisa baca langsung di link ini 
Tapi gampangnya liat mV nya, kalo doi flat ke kiri itu bagus, kalo ke kanan ada indikasi bad bonding.
Dari situ lo bisa simpulin kalo cement lo ancur atau masih bagus.

Mungkin itu memang yang menjadi akar persoalan kenapa nih well jadi masalah kayak gitu. Yang gue agak geli di nih pelem, kayake seru kalo Chief IT ngerti fungsi CBL dan bisa baca tuh log :))

Tapi okelah, movie is just a thing that we need to enjoy.

Itulah yang mungkin memang harus lo semua tanenim, do it safety or not et all. Kalo lo emang ngerasa apa yang mau lo lakuin itu ga aman, yaudah ga usah lo lakuin. Besok besok masih bisa, inget pacar pacar lo menanti di rumah.


Gue nulis kayak gini buat ngehormati kawan kawan gue yang memang benar benar menghabiskan waktunya berjauhan dari keluarganya dan rela mencari emas hitam ditengah hutan dan lautan luas.

Gue angkat topi buat kalian yang menaruhkan nyawa, ga kayak gue yang cuma bisa ngeforecast ga jaleh di depan komputer sama ngedit ngedit slide.

Re quote apa yang pernah gue tulis beberapa taun lalu:

Working in the oil industry:

1. We work in weird shifts ... Like prostitutes.

2. They pay you to make the client happy ... Like prostitutes.

3. The client pays a lot of money, but your employer keeps almost every penny ... Like prostitutes.

4. You are rewarded for fulfilling the client's dreams ... Like prostitutes.

5. Your friends fall apart and you end up hanging out with people in the same profession as you ... Like prostitutes.

6. When you have to meet the client you always have to be perfectly groomed ... Like prostitutes.

7. But when you go back home it seems like you are coming back from hell ... Like prostitutes.

8. The client always wants to pay less but expects incredible things from you ... Like prostitutes.

9. When people ask you about your job, you have difficulties to explain it ... Like prostitutes.

10. Everyday when you wake up, you say: I'M NOT GOING TO SPEND THE REST OF MY LIFE DOING THIS ****"..... Like prostitutes.


The only difference is the prostitutes can take Christmas and New Year's Eve off and they actually DO make a lot of Money!

But be strong my friend, God is always present even when we do not keenly feel His presence. He is available, and will never fail you. Trusting in God is faith practiced regardless of current circumstance bad or good. So keep do your best, let Him do the rest :)