Minggu, 30 Agustus 2020

Rasi Bintang Taurus...

"Nanti jam 4 kumpul semua di terminal ya, bisnya berangkat jam 5 dari jogja, insya Allah subuh sudah sampai ke Bandung", perintah kapten team ku pagi ini memberikan briefing terkait rencana keberangkatan tim kampusku ke Bandung.
Iya aku masuk ke dalam team yang mewakili kampusku untuk bertanding di salah satu perlombaan cerdas cermat di kota Bandung.
Menarik untuk di bahas, sejatinya tak pernah aku sekalipun turun di perlombaan mewakili almamaterku sejak TK sampai SMA karena memang aku bukan kasta ber IQ tinggi di sekolahku.
Mentok mentok mewakili lomba pidato di TPA dan cerdas cermat keagaaman antar masjid di tingkat kelurahan, tentuny piagamnya tak bisa dipakai untuk mendaftar ke Harvard atau ke Monas University.

"San, nanti pokoknya nothing to lose ya disana, km emang paling muda, tp kami yakin kalo km bisa disana", timpal salah satu rekanku yang tahun lalu berhasil menyabet juara dua di Jakarta.

Tak main main kali ini, lomba nya di tingkat nasional dengan lawan dari Universitas Indonesia, ITB, Trisakti, Undip, UGM, dsb; universitas kami naik panggung karena memang kami berada dalam civitas ke energian Indonesia dewasa ini. Bisa dibilang alumni kami adalah poros dari pengembangan industri Migas nasional.

"Sampe mana ini bro?", tanyaku pada kawan sebelahku yang juga nampak lelah tengah malam itu.

Sudah satu jam bus kami tak bergerak di daerah cirebon, macet parah. 

"Baru sampe sini aja udh apes, gimana disana nanti", denguhku yang memang menggambarkan kebosanan tingkat tinggi malam itu. 

Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh 8-10 jam akhirnya bisa kami lalui selama 16 jam karena ada pengecoran di jalur utara sebelum cadas pangeran. Aroma kelelahan dan kepasrahan sudah menyelimuti rombongan kami yang saat itu berangkat ke Bandung. Bahasa jawanya mungkin kami kalah sebelum bertanding.

"Nama saya iksan, semester 3 di perminyakan", awalku mengenalkan diri di malam ramah tamah itu. Malam dimana pertama kalinya kulihat aura aura menyeramkan dari manusia manusia ber IQ jenius yang dikumpulkan dalam 1 aula, selain aku tentunya.

Sebenarnya pengalaman seperti ini bukan yang pertama bagiku, sejak jaman SMP dan SMA, banyak aku bertemu dengan monster monster yang bisa melahap berhalaman LKS atau soal latihan UN hanya dengan memejamkan mata. Dari pengalamanku selama 6 tahun belajar di candradimuka sekolah seperti itu, ada 2 tipe siswa yang bisa survive di sekolah favorit; pertama makhluk ber IQ tinggi, kedua makhluk yang bisa memanfaatkan manusia ber IQ tinggi. Dan aku ada di tipe kedua itu.

Perlombaan yang akan dilakukan malam besok adalah cerdas cermat dalam bidang energi, 1 team terdiri dari 3 orang, aku bersama 2 seniorku dalam satu team akan mencoba mengadu nasib, mengukur seberapa besar tingkat kecerdasan kami selama kuliah melawan manusia manusia ber IQ tinggi di tempat itu.

Aku punya penyakit yang cukup misterius, sebelum naik panggung entah mengapa lidahku bisa terasa kelu, leherku keram dan rasanya isi perutku akan keluar jika harus maju kedepan panggung. Tak ubahnya siang itu, siang sebelum perlombaan akan dimulai.

"Assalamulaikum san, gimana sudah di bandung ya? Sehat semuaa?", suara yang sangat familiar denganku muncul dari ponsel kecilku

"Waalaikumsalam ibuuu, sehaat ibuuu, ibuu gimana?", jawabku histeris menjawab telpon ibuku

Hari ini ibu dan bapak masih berada di mekah, hari ke sekian melaksanakan ibadah haji, menggenapkan rukun islam yang terakhir sehingga bisa menjadi insan yg mulia di sisiNya.

"Bu, doain ya abis ini iksan maju lomba, semoga beruntung", pintaku ke ibu dari jarak puluhan ribu kilometer terbentang 

Secara magis tak terhindarkan, malam itu adalah malam yang tak akan pernah terlupakan olehku, lawanku dengan background alumni olimpiade sains di tingkat SMA dengan tangguhnya memimpin di rally final malam ini.

ITB dengan score 1000, Kampusku di peringkat 2 dengan score 500, dan Trisakti di peringkat 3 dengan score 100.

Babak penentuan pun dimulai, serupa dengan mode kuis siapa berani, kami diminta untuk mempertaruhkan poin kami demi pertanyaan terakhir yang akan diajukan.

Dengan penuh percaya dirinya ITB mempertaruhkan seluruh poin nya, Trisakti juga mempertaruhkan seluruh poin nya. Tak ayal kami juga tak tanggung tanggung mempertaruhkan seluruh poin kami.

Demi Tuhan yang menguasai alam semesta, malam itu rasi bintang lahirku terlihat jelas di Lembang, Rasi Bintang Taurus menuntunku dengan gempita.. kami memenangkan pertempuran malam itu, tak disangka jawaban kami yang tepat diantara kontestan yang lain...

Bukan karena kecerdasan kami kemenangan itu, karena Tuhan saat itu tersenyum bersama kami.. bersama rasi bintang taurus yang terlihat nyata di langit
Lembang...


Sabtu, 29 Agustus 2020

Malam penuh bintang..

Cinta mungkin adalah hal yang indah untuk dibahas oleh sebagian orang. Namun tidak untukku, 14 tahun aku belum pernah pacaran, dan seolah tak ada wanita yang sekedar menolehkan kepalanya padaku dan memastikan bahwa aku memang ada di dekat mereka. Pahit memang, tapi itu memang kenyataan yang tak terelakkan selama 14 tahun aku berkelana.

"San, baca soal no 25 sekarang!", suara keras dari guru ekonomi itu membuyarkan lamunanku dan semua kawanku tertawa melihatku tergopoh meninpali perintah yang mengagetkan itu.

Ini tahun keduaku di SMP, yang terbaik di kotaku. Aku akhirnya berhasil melewati batas minimum NEM untuk bisa masuk ke sekolah favorit, bisa dibilang aku akhiri taun terakhirku di SD dengan predikat memuaskan.

Perjuangan 7 hari les tanpa henti yang diminta ibuku dengan menyewa salah satu guru privat berhasil menempatkanku di jajaran terbaik di SD ku, walau bukan 10 besar, tp cukup membungkam kawan kawan yang dulu mencibirku karena aku dianggap tak pantas masuk kelas A.

Itu yang aku benci dari sistem pendidikan di SD ku, bayangkan saja, anak anak yang mestinya masih mencari pokok jati dirinya sudah dipisahkan secara strata IQ dengan embel embel peningkatan mutu kualitas pendidikan anak. Aku memang tak begitu beruntung dalam process klastering itu dimana aku ditempatkan di kelas B ketika kelas 4, hanya karena kepribadianku dianggap rusak oleh wali kelasku saat itu. Kembali lagi, apa iya seorang anak bisa langsung di stempel sebagai anak nakal dan di klastering seperti itu? Entahlah.. 

sekolah ini sangat bonafide, beruntung aku berhasil menempatkan diriku disini dengan segala upaya yang dilakukan orang tuaku saat aku SD dulu.

Sekolah ini sudah ada sejak jaman penjajahan, banyak kawanku yang bercerita dulu sekolah kami ini dipakai sebagai rumah sakit, markas jepang, tempat penampungan senjata, dan banyak lagi versinya. Menariknya ada salah satu sudut ruangan yang tak ada lagi berani masuk bahkan hanya untuk mengintip ruangan itu, gosipnya kita bisa terlempar ke masa penjajahan dulu hanya dengan membuka pintunya. Aneh memang, tp itu yang dipercaya kumpulan anak 13-14 tahunan yang bersekolah disana. Walau kutau, pikiran ga jelas katak gini ga cuma terjadi di sekolahku, kalian juga pasti berfikir sekolah kalian adalah bekas rumah sakit juga hahaha

Bagian depan sekolah kami masih dipertahankan bentuk bangunannya sejak jaman penjajahan, termasuk lorong itu, Lorong yang cukup magis dengan suasananya yang syahdu dan cukup membuat bulu kuduk berdiri ketika maghrib sudah tiba. 

Karena cukup terkenalnya sekolah kami, banyak keluarga dengan kemampuan finansial diatas rata rata yang menyekolahkan anaknya disana. Artinya selain nilai bagus, gadis gadis paruh baya yang memasuki masa pubertas dengan wangi wangian di jamannya pasti mudah ditemukan di sekolahku ini.

Termasuk di kelasku, disini ada memang beberapa gadis yang berhasil membuatku tak tidur setiap malamnya, mencoba membayangkan kalau salah satu dari mereka jadi pacarku saat itu.

Tapi tidak dengan gadis itu.

Aku tau namanya, tapi tak tau apakah dia tau siapa namaku. tiap senin dan kamis sore kami bertemu di halaman tengah sekolah namun bukan untuk saling bertegur sapa, hanya sekedar melihat dan menahan lelah karena kami memang di ekstra kurikuler yang sama.

Dia cantik, tapi karena keberanianku saat itu hanya setinggi tanah yaa aku hanya memasukkan dia dalam katalog gadis gadis cantik di sekolahku, tak ada lanjutan cerita tanganku bergerak untuk memperkenalkan diri atau sengaja kutabrakkan diriku sehingga bisa berkenalan dengannya. Sebut saja aku pecundang karena cerita monyet ini tak berlanjut dengan bahagia.

Tapi saat itu kawan, suara kecil itu datang dan bilang bahwa nanti kami akan bertemu di masa depan, kelak, ketika bintang kembali terang memenuhi langitNya, walau dinginnya malam tak lagi sama tapi kami akan bersama...