Senin, 01 Februari 2016

Tujuh lapis langit (3-habis)

Sudah beberapa hari ini Ujian Akhir Nasional untuk SMA selesai, masih bergelayut nasib apa yang akan menghampiriku kedepannya. Melanjutkan kuliah atau meratap di rumah.

"Mas, kata bapak alhamdulillah SMA 1 lulus semua", kubaca pesan singkat yang muncul dari telepon selular ku, kaget memang karena dia hampir tak pernah mau menanggapiku selama ini. Lega karena pertama kali yang dia hubungi aku, dan lega aku lulus.

Lagi lagi ketika satu keluargaku mengkonfrontir aku mengapa keukuh buat kuliah di kedokteran, mungkin aku hanya akan diam dihakimi oleh mereka. Aku sendiri masih bingung kenapa harus bercita cita menjadi dokter. Tak ada satupun dalam silsilah keluargaku yang mengabdikan dirinya untuk menjadi dokter. Faktor financial memang menjadi alasan utama, namun memang, buat keluarga kami, bisa makan cukup dan beribadah yang rajin agar masuk surga jauh lebih utama dibanding cita cita yang tinggi. Pathetic? Tergantung dari mana kau melihatnya kawan.

Jam 4 subuh aku mengepak tas sendiri, cuma sehelai baju, dan uang seadanya. Bapak masih berdiri tegak sholat sunah sebelum subuh. Adekku masih tertidur, dan ibu seperti biasanya menyiapkan sarapan untuk anak anaknya.

Aku berangkat sendiri ke Yogyakarta, tidak ada iringan motor seperti saat kami akan melakukan ujian mandiri di universitas paling bonafide se Yogya itu, tidak ada bapak yang mempersiapkan mobilnya dan siap mengantar anak pertamanya untuk menghadapi babak baru dalam hidupnya.

Hanya berbekal beberapa nasihat dari Pamanku, aku memutuskan mencoba jalan itu. Jalan yang siapapun tak pernah mengira aku akan berakhir disana, tapi itulah akhirnya.

Sendiri aku berjalan di perguruan tinggi yang ada ada di pinggir Jalan Lingkar Luar kota Yogyakarta itu. "Mas isi formulirnya dulu yah, nanti bayar uang pendaftaran, terus bisa melakukan computer based test di Ruangan itu", pinta seseorang yang seumuran bapakku menunjukkan tahapan yang yang harus kulakukan disana. 

Aku cuma mengangguk dan mencoba mengatur nafas, menguatkan diri bahwa aku harus melewati hari ini dengan baik.

Setelah kurang lebih satu jam duduk di depan komputer, tiba-tiba muncul kata "Excellent", tak perlu menjadi lulusan Imperial College untuk tau apa arti kata berbahasa inggris itu, tapi kata itulah yang membuat saya untuk pertama kalinya berjalan tidak beriringan dengan mimpi yang sudah saya rajut sejak awal dulu menuntut ilmu.

Hari beranjak sore ketika aku berdiri sendiri menunggu bus untuk membawaku kembali ke Solo, pulang dengan surat ditanganku yang menyatakan aku diterima. 

Gemetar tanganku, untuk pertama kalinya aku dinyatakan diterima, walau bukan untuk menjadi seorang dokter.

Aku mencoba mencari nama bapak di telpon selularku, "Ya alhamdulillah, hati hati pulang", jawaban bapak yang tak terkesan bangga mendengar keberadaan surat itu ditanganku.

Bukan bahagia, aku pulang berlinang air mata

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Upaya terakhir memang selalu yang paling menyakitkan but some people may say that a last effort often becomes the winning stroke. Setidaknya berjuang sampe mati. Itu yang ada di pikiran remaja 18 tahun yang sudah berkali kali gagal di setiap upayanya masuk perguruan tinggi.

"Gimana udah disiapkan semua?", tanya ibuku lirih memberikan sepiring nasi goreng untuk sarapan pagiku. "Sudah bu, bismillah aja yah", timpalku sambil melahap sarapan yang rasanya jadi tak karuan karena grogi yang sungguh luar biasa.

Lagi lagi, nervous yang menjadi biang keladi  masalahku.

Ada peristiwa ketika ketika SMP, ketika diminta pidato, saking grogiku, sempat aku muntah di pagung, konyol memang, tapi sudah menjadi rahasia umum di keluargaku kalo aku ayam sayur di depan panggung.

Sempat aku sedikit berubah, ketika bergabung dengan Teater dan menjadi Aktor Terbaik se Jawa Tengah, semua serasa mudah. Sampai ibuku tak percaya kalau aku sanggup melakukan monolog selama itu tanpa muntah.

"Jadi udah yakin tetep mau ambil kedokteran?", tanya bapak kembali meyakinkanku. "insya Allah Pak, bismillah", jawabku yang malah merasa terkoyak mendengar pertanyaan itu.

Bapak cuma mengangguk, tak ada sesuatu hal yang istimewa pagi itu, aku anak pertama, berusaha merubah nasib keluarganya, tapi serasa tak ada restu untuk menggapainya.

Gontai aku mencari ruangan tempat ku ujian kali ini, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bakda maghrib aku tak selesaikan dzikirku, beranjak aku lari dari shaf terbelakang di masjid dengan usia sebayaku itu.

Aku tak peduli bapakku  akan mengamuk atau tidak karena malu melihat tingkah anaknya yang tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk generasiku, tapi ini upayaku yang terakhir, cuma satu di fikiranku saat itu, aku harus lulus.

hanya terdiam melihat layar 14 inch di depanku seolah tertawa di depanku, tertunduk aku lesu dibuatnya.

Pilihan pertama Fakultas Kedokteran UNS dan pilihan kedua Fakultas Kedokteran UNEJ,

Semesta lagi lagi tak berpihak kepadaku, sudah tujuh lapis langit yang kuupayakan, tak ada satupun langit bisa menjadi tempat singgahku.

Aku masih membumi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar